Selasa, 07 Agustus 2012

Catatan dari Negeri Para Pelaut Ulung

Takunjunga' Bangunturu', Nakugunciri Gulingku, Kualleanna Tallanga Na Toalia [Tidak begitu saja aku ikut angin buritan, Dan aku putar kemudiku, Lebih baik aku pilih tenggelam dari pada balik haluan].

Le'ba Kusoronna Biseangku, Kucampa'na Sombalakku, Tamammelokka Punna Teai Labuang [Ketika perahuku kudorong, Ketika layarku kupasang, Aku takkan menggulungnya kalau bukan labuhan].

Demikian Falsafah Hidup Orang Makassar. Dari falsafah ini sudah dapat dilihat betapa kehidupan orang-orang Makassar begitu dekat bahkan sangat dekat dengan yang namanya laut. Maka tak heran jika orang-orang Makassar dikenal sebagai pelaut-pelaut ulung.

Sebelum kedatangan orang Eropa, orang Makassar sudah dikenal sebagai pelaut ulung. Banyak bukti yang menunjukkan kepiawaian orang Makassar menguasai laut dengan layar. Diantaranya adalah keterangan dari Tome Pires yang juga dianggap sebagai sumber Barat tertulis yang paling tua yang bisa ditemukan. Pires mengemukakan : “Orang-orang Makassar telah berdagang sampai ke Malaka, Jawa, Borneo, negeri Siam dan juga semua tempat yang terdapat antara Pahang dan Siam”.

Oleh Pelras, Gelombang tinggi dan laut yang sangat luas bukanlah hambatan bagi mereka. Keberanian, kekasaran dan kematianlah yang akan mereka pilih jika mereka di perhadapkan pada pilihan yang rumit. Apalagi kalau itu menyangkut dengan harga diri dan kepercayaan yang di anutnya.

Disamping itu Kerajaan Makassar [Gowa-Tallo] juga dikenal sebagai kerajaan yang pernah mempunyai kekuatan armada laut yang besar dan di segani.

Oleh Antonio de Paiva seorang pelaut portugis mencatat pertemuannya dengan Baginda Sultan Malikkussaid (Raja Gowa ke 15) yang dikawal tidak kurang dari 1182 [seribu seratus delapan puluh dua] kapal perang Kerajaan Gowa-Tallo yang menyertai Baginda Sultan Malikussaid saat melakukan pelayaran ke daerah Maje'ne.

Selain itu dalam Lontara Bilang Gowa, tercatat pada 30 April 1655, Sultan Hasanuddin berkayuh ke Mandar terus ke Kaili dikawal 183 perahu. Perjalanan Sultan Hasanuddin ke Maros, 29 Desember 1659 dikawal 239 perahu. Ketika ke Sawitto 8 Nopember 1661 dikawal 185 perahu. Sebanyak 450 perahu digunakan mengangkut sekitar 15.000 lasykar Kerajaan Gowa ke Pulau Buton pada bulan Oktober 1666.

Kebesaran armada laut Kerajaan Gowa dahulu didukung oleh armada perahu yang besar dan tangguh. Selain jenis perahu Phinisi yang dikenal sekarang ini, Kerajaan Gowa pernah memiliki ribuan perahu jenis "Galle" yang mempunyai desain cantik menawan yang dikagumi pelaut-pelaut Eropa, seperti I Galle I Nyannyik Sangguk yang pernah ditumpangi oleh Baginda Sultan Muhammad Said [Sultan Malikussaid] dalam pelayarannya ke Walinrang dan negeri Bolong di Tanah Toraja.

Perahu Galle Kerajaan Gowa dahulu, konstruksinya bertingkat dengan panjang mencapai 40 meter dan lebar 6 meter. Tiang layar besar dilengkapi pendayung 200 hingga 400 orang. Setiap perahu Galle diberi nama tersendiri. Seperti I Galle Dondona Ralle Cappaga panjang 25 depa [kurang lebih 35 m], I Galle I Nyannyik Sangguk dan I Galle Mangking Naiya, panjang 15 depa [kurang lebih 27 m], I Galle kalabiu, I Galle Galelangan, I Galle Barang Mamase, I Galle Siga, dan I Galle Uwanngang dengan panjang masing-masing 13 depa atau sekitar 23 meter.

Disamping itu terdapat pula jenis-jenis perahu yang dibuat untuk kepentingan tertentu, seperti jenis perahu Binta untuk penyergapan, perahu Palari sebagai alat pengontrol wilayah kekuasaan di perairan dan pesisir pantai, perahu Padewakang untuk kepentingan dagang, perahu Banawa untuk mengangkut binatang ternak, perahu Palimbang khusus angkutan penumpang antarpulau, perahu Pajala bagi nelayan penangkap ikan, perahu Birowang dan perahu Bilolang untuk mengangkut penumpang jarak dekat.

Dengan itu, maka tak heran jika wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa pada pertengahan abad XVII dapat meliputi sebagian besar kepulauan Nusantara bagian timur, seluruh Sulawesi, Sangir-Talaud-Pegu-Mindanao di bagian utara, Sula-Dobo-Buru-Kepulauan Aru [Maluku] di sebelah timur, Marege [Australia Utara]-Timor -Sumba-Flores-Sumbawa-Lombok [Nusa Tenggara] di sebelah selatan, dan Kutai dan Berau [Kalimantan Timur] di sebelah Barat.

Selain sebagai armada perang, juga digunakan untuk menjalin hubungan persahabatan dan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, juga dengan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka, dan Gujarat di India.

Dengan bermunculnya kapal-kapal bangsa Eropah di perairan Nusantara dalam permulaan abad XVII, terutama di bahagian timur Indonesia, yang secara langsung berlayar ke tempat-tempat penghasilan rempah-rempah, maka mau tak mau akan terjadi persaingan diantara mereka, tak terkecuali dengan orang-orang Makassar [Kerajaan Gowa-Tallo].

Oleh Kompeni Belanda orang-orang Makassar merupakan saingan yang berat baginya. Terlebih-lebih sesudah orang-orang Belanda selesai mengadakan perhitungan dengan orang-orang Spanyol, Portugis, dan Inggris di Maluku, ternyata pelabuhan Makassar selalu terbuka bagi bangsa-bangsa ini untuk datang berdagang dan membeli rempah-rempah lebih murah di Makassar dari pada di daerah Maluku sendiri.

Dalam tahun 1607 setibanya Cornelis Matelief di Ambon, Dia mengirim utusan ke Makassar untuk menyampaikan surat kepada Raja Gowa supaya Raja Gowa jangan mengirim beras ke Malaka dan membuka pelabuhannya untuk kapal-kapal Belanda. Permintaan itu tiada di pedulikan Gowa. Dengan sendirinya merenggangkan hubungan baik diantara keduanya, terutama seketika Belanda telah mulai berhasil memperoleh monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Pedagang-pedagang Eropah lainnya dengan sendirinya memindahkan pusat kegiatannya ke Makassar. Disamping untuk menjual barang dagangan yang dibawanya, juga yang terpenting ialah untuk membeli barang-barang dagangan yang diperlukan, terutama rempah-rempah, kayu cendana dan kayu sapan.

Dengan sendirinya sikap menjauhi dari pihak Komponi Belanda [VOC] mulai nampak. Dalam tahun 1615 Jan Pieterszoon Coen sebagai Direktur Jenderal atas perdagangan Kompeni di Indonesia mempertimbangkan penghapusan kantor di makassar, yang berarti putusnya hubungan baik diantara keduanya. Tetapi sebelum hal ini merupakan suatu ketetapan, wakil dagang Belanda di Makassar Abraham Sterck atas kuasanya telah meninggalkan kantornya dan memindahkan seluruh inventarisnya ke kapal "Engkhuysen" yang sedang berlabuh di pelabuhan dan berniat berangkat pamit. Akan tetapi masih terdapat piutangnya sama Raja. Oleh sebab itu atas anjurannya, maka kapitan kapal mengundang sejumlah pembesar-pembesar Makassar untuk datang melihat-lihat kapalnya. Setelah pembesar-pembesar itu berada di atas kapal, maka di suruh serangnya untuk melucuti seluruh senjata-senjatanya karena hendak dijadikan sebagai sandra [gijselaar].

Perkelahian pun terjadilah di kapal itu pada tanggal 25 April 1615, menyebabkan kedua belah pihak menderita kerugian. Pembesar-pembesar Makassar yang datang itu kebanyakannya tewas, terkecuali dua orang, yakni Ince Husain [Syahbandar] dan KaraEngta ri Kotengan [salah seorang keluarga raja] terutama dan dibawa ke Banten. Dengan sendirinya ketegangan-ketegangan pun mulailah terjadi, tetapi belumlah secara besar-besaran.

Sultan Alauddin sangat gusar sekali, tetapi masih dapat menahan diri menunggu sampai kedua pembesar itu dikembalikan dengan selamat oleh Belanda. Beberapa buah kapal Belanda yang masih singgah di Makassar masih dietrimanya dengan baik. Tetapi setelah kedua pembesar itu tiba di Makassar dalam tahun 1616, barulah Raja melampiaskan pembalasan dendamnya.

Pada akhir tahun 1616 sebuah kapal Belanda yang bernama "De Eendragt" yang setelah meninggalkan tanah airnya terdampar di pantai barat Australia dan membikin peta sebagian daerah itu. Dari Australia kapal itu tiba di laut Jawa melalui selat Bali dan tanpa mengetahui kejadian itu di Makassar dan penutupan kantor dagangnya, telah berlabuh di pelabuhan Makassar dan telah turun ke daratan. Kapal, muatan dan anak buahnya itu pun menjadi mangsa orang Makassar. Dan mulai pada waktu itulah terjadi perang antara Kompeni dengan Makassar yang berlangsung bertahun-tahun lamanya. Berpuncak pada kejatuhan Makassar pada tahun 1667 yang ditandai dengan diadakannya Perjanjian Bungaya.

Namun walaupun demikian, orang-orang Makassar yang tidak ingin menerima Perjanjian Bungaya dan tidak merasa senang dengan kehadiran Belanda tetap menjadi ancaman bagi Belanda [VOC] baik didarat maupun di lautan. Beberapa tokoh sentral Gowa yang menolak menyerah salah satunya adalah Karaeng Galesong hijrah ke Tanah Jawa. Bersama armada lautnya yang perkasa, mereka memerangi setiap kapal Belanda yang mereka temui. Oleh karena itu, Belanda yang saat itu dibawah pimpinan Spellman menjulukinya dengan "Si-Bajak-Laut". Mereka menjadi Bajak Laut bagi Belanda [VOC] beserta koloni-koloninya yang merupakan musuh-musuh mereka, sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap ketidakadilan. Mereka berjuang untuk kemerdekaan dan kesejahteraan mereka.**


Sumber : http://adhiehr.blogspot.com/2011/02/catatan-dari-negeri-para-pelaut-ulung.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar