Selasa, 07 Agustus 2012

Karaeng Matoaya

Karaeng Matoaya

 

 

Nama pribadinya semoga saya tidak terkutuk adalah, I-Mallingkaang. Nama kerajaan-Nya (Paddaenganna) adalah Daeng Mannyonri. Nama (Pakkaraenganna) sebelum Ia menjadi penguasa adalah Karaeng Katangka. Disebut juga Sultan Abdullah Awawul Islam. Nama-Nya setelah meninggal disebut Tu-Mammenanga-ri-Agamana ('Dia yang meninggal dalam agamanya "). Di gelar juga Karaeng Kanjilo, Karaeng Segeri, Karaeng Barombong, Karaeng Data dan Karaeng Allu. Namun diantara nama-Nya itu Beliau lebih populer dengan nama Karaeng Matoaya (Raja Tua) (1570-1636). Raja Tallo sekaligus merupakan Perdana Menteri Gowa.

Karaeng Matoaya adalah anak dari Raja Tallo ke-IV, I Mappatakangtana Daeng Paduduq (Tumenanga ri Makkayoang) dari istrinya yang bernama, semoga saya tidak terkutuk adalah I Sapi. Naik tahta mengantikan Raja Tallo ke VI yang juga merupakan Raja Gowa ke- XIII yang bernama I-Tepukaraeng Daeng Parabung Karaeng Bontolangkasa “Tunipasulu” Tu Menanga ri Butung.

Digelar Sultan Abdullah Awawul Islam karena Dialah orang pertama yang mengucapkan kalimat syahadat di tanah Sulawesi. Ia masuk Islam pada malam jumat tanggal 9 Jumadil Awal 1014 Hijriah (22 September 1605). Yang mengislamkannya ialah Khatib Tunggal Abdul Makmur yang berasal dari kota tengah (Sumatera Barat) yang juga di gelar Datok ri Bandang.

Karaeng Matoaya dikenal sebagai seorang Muslim yang taat dan berpengetahuan, sebagaimana digambarkan dalam kutipan berikut : Dikatakan bahwa Raja ini adalah seorang yang sangat alim berpengetahuan (panrita), seorang pemberani, seorang yang mempunyai wawasan yang sangat mendalam dan bijaksana; seorang yang terampil dan mampu menjadi penyelenggara (penentu, pengambil kebijakan); tangkas dalam pekerjaan baik pekerjaan laki-laki maupun kerajinan perempuan; ia adalah seorang yang jujur (tegak), baik hati, dan ramah. Dia mampu membaca dan memahami apa yang ia baca; Dia mahir membaca dan menulis tulisan Arab, banyak kitab yang Dia baca, dari waktu Dia memeluk agama Islam sampai kematiannya ia tidak pernah meninggalkan sholat kecuali sekali yakni ketika ia menderita sakit (dengan kaki yang bengkak) tatkala orang Inggris mengobatinya dengan memberinya minuman keras, 18 hari lamanya ia tidak shalat. Dia senantiasa mengerjakan sembahyang sunat, seperti shalat sunat Rawatib, Witir, Adduha, Tasbih dan Tahajjud. Berkata I-Loqmoq ri Paotere [salah satu jandanya] :"Paling sedikit sembahyang malamnya dua rakaat dan paling banyak sepuluh rakaat setiap malam”. Dia melakukan sembahyang sunat tasbih pada setiap malam Jumat, Dan setiap malam pada bulan Ramadhan. Dia senantiasa membayar pajak (zakat) emas, zakat kerbau (binatang) juga zakat beras pada setiap tahunnya. Dia sering memberi izin untuk bekerja, dan juga senantiasa berdoa. Berkata Karaenga ri Ujung Pandang :"Dia banyak belajar Morfologi arab dari Khatib Intang di Koja Manawara'.

Karaeng inilah yang menjadikan (ampasallangi) orang Makassar di seluruh tanah Makassar menganut agama Islam. Juga orang Bugis di seluruh tanah Bugis, kecuali Luwu. Dikatakan bahwa hanya dua tahun setelah Karaeng Matoaya mengucapkan Syahadat, maka seluruh rakyat Gowa dan Tallo pun sudah selesai di Islamkan, yang ditandai dengan diadakannya sembahyang Jumat pertama di Tallo pada tanggal 9 November 1607 (19 Rajab 1016). Dan dalam jangka waktu 4 tahun, seluruh tanah di Sulawesi Selatan pun telah di islamkan.

Meskipun Karaeng Matoaya adalah orang kedua dibawah Raja Gowa. Namun Dia adalah merupakan pemimpin utama kerajaan Makassar (Gowa-Tallo) yang mengendalikan seluruh kebijakan didalamnya, terutama pada tahun-tahun awal ketika Raja Gowa, yang juga keponakannya itu masih sangat muda (masih belia).

Karaeng Matoaya tercatat menikah sebanyak dua (2) kali. Satu istrinya bernama Karaeng Manaungi. Satu lagi istrinya bernama Karaeng ri Naung. Dari hasil perkawinannya tersebut dikaruniai enam (6) orang anak ; 1) Karaeng Patinga Tampatsina. 2) I-Manginyarang Karaeng Kanjilo Daeng Makiyo Sultan Abdul Jafar Muzaffar. 3) I-Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingaloang [Tumenanga ri Bontobiraeng]. 4) La Mallawakkang Daeng Sisila Karaeng Popo Abdul Kadir. 5) Tumataya ri Bantang Daeng Mangemba. 6) Daeng Mangeppe.

Setelah Karaeng Matoaya wafat, Dia digantikan oleh anaknya yang bernama I-Manginyarang Karaeng Kanjilo Daeng Makkiyo Sultan Abdul Jafar Muzaffar sebagai Raja Tallo VIII, dari istrinya yang bernama Karaeng ri Naung.**

Wassalam, Semoga manfaat...
Sumber : http://adhiehr.blogspot.com/2011/08/karaeng-matoaya.html

1 komentar:

  1. As. saya sangat tertarik dengan artikel ini walaupun ada sedikit kekeliruan tentang kerajaan wuna. Pada tahun 1617 terjadi peperangan antara raja wuna sangia kaendea dengan sultan buton sapati baluwu.Dalam peperangn ini maka raja wuna menang. akhirnya buton meminta bantuan VOC sehingga raja wuna harus mundur. Terjadi perundingan di atas kapal di Pulau 5 antara Raja wuna dengan VOC dan Buton namun ternyata raja wuna tertipu dan dibuang keternate oleh VOC. Sehingga kerajaan wuna melakukan perlawanan terhadap VOC. Jika bung memperhatikan perjanjian buangaya pada pasal 17. maka sebenarnya Makassar tidak pernah menyerang wuna. karena kerajaan ini juga menetang VOC dan Buton. adalah benar sultan Alaudin dan hasanudin menaklukan buton tapi dalam sejarah kami Makassar tidak pernah menyerang kerajaan wuna. Begitu pula ternate tidak pernah menguasai kerajaan wuna. dalam buku J. Couvreur di jelaskan bahwa tahun 1654 sultan ternate ke buton tahun 1655 Komandan ross bersama sultan ternate merebut tiworo. Dalam sejarah wuna tiworo adalah pulau kecil di barat pulau muna. sehingga dalam buku ini pun ternate di bantah pernah memerintah di kerajaan wuna. begitupun Buton tidak pernah menaklukan kerajaan wuna. semoga ini menjadi pelurusan sejarah antara kerajaan gowa dan wuna. karena dalam sejarah wuna di jelaskan bahwa watandriabeng adik sawerigading menikah dengan raja wuna 1 la eli alias rilang rilangiq. sehingga adalah benar cerita sawerigading itu bersala dari bahasa luwu makssar sangsekerta dan wuna. karena kerajaan luwu dahulu di huni oleh semua etnis yang ada di sulawesi hari ini. Adapun silsila raja-raja wuna adalah 1. La Eli Baidul Zaman Gelar La Ramandalangi alias Holantolani. Menjadi raja luwu karena sawerigading tidak mau menjadi raja di luwu. 2 La Aka gelar Koghua Bangkano fotu punya kaka bernama runtua wualu menjadi raja luwu karena la galigo juga tidak mau menjadi raja luwu. 3 La Ambano dialah yang pertama bergelar sugi. 4 sugi patani 5. sugi la ende 6. sugi manuru. 7. la kilaponto menajdi sultan buton pertama dan raja tolaki di kendari sehingga belaiu bergelar raja yang menyatukan negeri di sultra tahun 1527 M Jazirah Sultra suda di islamkan oleh syeh Abdul wahid dari mekah Utusan Turky Usmania.8 La posaso 9. Rimpaisomba 10 La Titakono.11 LD Saadudin 12 Sangia kaendea 13 LD Tugho 14. LD Husaini Dst. Jadi semenjak dahulu hingga zaman kemerdekaan kerajaan wuna selalu menolak campur tangan VOC tidak seperti buton yang di zaman la elangi bukan bernazab La kilaponto orang Wuna tepatnya tahun 1613 M bekerja sama dengan VOC yang di tolak oleh kerajaan wuna karena menggap VOC adalah Orang-orang kafir. Semoga ini bisa meluruskan sejarah GOwa dan Kerajaan Wuna di SULTRA. wasalm.

    BalasHapus