Selasa, 07 Agustus 2012

Kitab La Galigo Tidaklah Lebih Tua dari Aksara (Huruf) Lontara

Kitab dan Aksara ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.

Kitab La Galigo atau biasa juga disebut Kitab Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis Makassar di Sulawesi Selatan (sekarang bagian dari Republik Indonesia) yang ditulis diantara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi kuno, ditulis dalam huruf lontara kuno. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal-usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari. Epik ini panjangnya melebihi Mahabharata dari India, bahkan ada yang menduga bahwa epik ini lebih tua dari Mahabarata yang dari India tersebut.

Aksara Lontara adalah aksara yang dipakai dalam Kitab Galigo, dan sebagaimana dikatakan diatas, bahwa Kitab tersebut ditulis dalam aksara lontara kuno, jadi bukan ditulis dalam lontara yang ada sekarang (lontara belah ketupat). Berikut aksara lontara kuno yang dipakai dalam kitab tersebut (sebelah kiri), sebagaimana yang dikemukakan oleh Matthes sang penulis ulang, dikutif oleh Holle (1882).


Adalah Daeng Pamatte yang dikenal sebagai pencipta aksara lontara ini, sebagaimana disebutkan dalam Lontara Gowa (catatan harian kerajaan), berikut kutipannya :

(…iapa anne karaeng uru apparek rapang bicara, timu-timu ri bunduka. Sabannarakna minne Karaenga nikana Daeng Pamatte. la sabannarak, la Tumailalang, iatommi Daeng Pamatte ampareki lontarak Mangkasarak).

(…Baru Raja inilah yang pertama membuat undang-undang dan peraturan perang. Syahbandar raja ini bernama Daeng Pamatte, dia syahbandar dan dia juga Tumailalang, Daeng Pamatte inilah yang membuat lontarak Makassar).

Lahirnya aksara lontara, bermula karena ia (Daeng Pamatte) diperintah oleh Karaeng Tumapa’risik Kallonna untuk mencipta hurup Makassar. Hal ini mungkin didasari kebutuhan dan kesadaran dari Baginda waktu itu, agar pemerintah kerajaan dapat berkomunikasi secara tulis-menulis, dan agar peristiwa-peristiwa kerajaan dapat dicatat secara tertulis. Aksara lontara sendiri sudah mengalami perkembangan dan perubahan baik jumlah maupun bentuknya sejak diciptakannya.

Lantas apa yang membuat orang-orang beranggapan/ berpendapat bahwa Kitab Galigo lebih tua dari Aksara Lontara itu sendiri…? Jawabannya adalah karena Kitab Galigo tersebut bercerita mengenai awal dimulainya “penciptaan” dunia serta bercerita mengenai “manusia pertama” sebagai penghuni bumi, juga tidak lepas dari isinya yang penuh dengan mitos. Kalau demikian apa bedanya dengan Al-Quran sebagai kitab suci serta kitab-kitab suci lainnya yang ada sekarang ini, yang juga didalamnya banyak bercerita mengenai awal penciptaan dunia serta penciptaan manusia pertama, yang didalamnya juga banyak mengandung makna yang tersembunyi. Dapatkah kita katakan bahwa Kitab Suci tersebut lebih dahulu ada daripada tulisan/ aksara yang dipakai dalam kitab tersebut…? Jawabannya adalah TIDAK.....oleh karena tidaklah mungkin suatu kitab bisa tercipta tanpa adanya aksara/ tulisan lebih dahulu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Kitab Galigo tidaklah lebih tua dari Aksara Lontara. Adapun tua (lebih dahulu ada) yang dimaksud adalah ceritanya dan bukanlah kitabnya, oleh karena suatu cerita dapat hidup dan berkembang sepanjang keberadaan manusia itu sendiri.** Wassalam.
.

Sumber :  http://adhiehr.blogspot.com/2011/04/kitab-la-galigo-tidaklah-lebih-tua-dari.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar