Selasa, 07 Agustus 2012

Sejarah Berdirinya Toddo Limaya di Maros

 

Setelah Karaeng Assakayai Binangaya menghilang (assayang) bersama dengan istrinya. Selanjutnya, posisinya digantikan oleh Karaeng Barasa sebagai penguasa di Maros.

Karaeng Barasa memperistri I Basse Nguakeng. Nama Paddaenganna Daeng Bulaeng. Beliau yang dipanggil dengan Karaeng Baineya. Mempunyai satu orang anak laki-laki bernama Kare Yunusu. Karaeng Barasa menghilang (assayangi) karena adiknya. Pada saat Dala Marusu, dinikahi oleh Arumpone, Matinroe ri Nagauleng. Dengan sebab : dikatakannya [bahwa sudah kecil betullah Maros karena sudah diperistrikanlah oleh Bone]. Karaeng Barasa adalah Karaeng pertama yang mengangkat seorang Kadi di Maros. Anaknya Kare Yunusu yang Ia pasang atau yang Ia angkat sebagai Kadi karena Ia memuji bahwa anaknya itu sebagai orang yang benar-benar adil juga kuat agamanya. Karaeng Barasa menghilang (assayangi) bersama istrinya. Selanjutnya Kare Yunusu yang mewarisi takhta, karena dia adalah anak tunggal.

Kare Yunusu, anak dari Karaeng Barasa, Ia adalah Kadi Maros dan juga Karaeng Maros. Setelah menjadi penguasa (Karaeng), ia menyerahkan jabatan Kadi-Nya kepada anaknya, yang bernama Kare Lame. Pada saat pemerintahan Kare Yunusu inilah orang Belanda untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di tanah Maros, dibawa oleh orang Bone, Ketika [orang Bone] ingin menghancurkan Somba Opu. Pada saat itu pulalah [setelah perang], tanah Maros pun dikuasai oleh orang Bone. Pada saat itulah Kare Yunusu meninggal, setelah memberikan kekuasaannya kepada Arumpone. Dengan syarat agar yang menjadi Karaeng adalah anggota keluarganya yang di Bone bernama La Mamma Daeng Marewa, anak dari Lo'mo Tamate Marusu Abdullah Kadere. Dia adalah merupakan keponakan Karaeng Maros Kare Yunusu, sebab Ia adalah cucu dari Arumpone Matinroe ri Nagauleng, dari istrinya yang bernama Siti Maemuna Dala Marusuq, anak dari Karaeng Assakayai Binangaya di Maros.

La Mamma Daeng Marewa adalah anak dari Lo'mo Tamate Abdullah Kadere. Ia adalah anak dari La Magumete Arung Sinri, ibunya, dan ayahnya adalah I Magoro Arung Galung Soppeng. La Magumete Arung Sinri adalah anak dari Arumpone Matinroe ri Nagauleng, nama pribadinya, semoga saya tidak terkutuk, adalah La Patau Mattana Tika. Dari istrinya yang bernama Siti Maemuna Dala Marusu. Pada saat kepemimpinan La Mamma Daeng Marewa inilah, Maros untuk pertama kalinya menjadi pengikut Bone (Palili Bone). Pada saat ini pulalah kampung Simbang didirikan. Bontoa didirikan. Tanralili didirikan. Raya didirikan. Karaeng inilah yang pertama membuat Toddo Limaya di Maros. La Mamma Daeng Marewa-lah Karaeng di Maros yang memanggil para pengikut Karaeng Bone (Palili Bone) dan Goa (Palili Goa) yang terletak dekat dengan tanah Maros untuk bersatu karena ketidaksukaannya dengan kehadiran Belanda di Maros. Pada awalnya seluruh Karaeng yang dipanggil itu tidak mau, karena mereka mengatakan Karaeng Maros hanya ingin mengambil [kendali] seluruh masyarakat (wilayah) yang dekat dengan tanah Maros. Namun Bone sudah keluar untuk menyerang Goa ketika I Sangkilang Batara Goa berada di Maros, pada akhirnya Belanda-lah yang menggantikan Goa dan Bone berkuasa (memerintah) di Maros berikut seluruh wilayah yang terletak dekat dengan Maros : Simbang, Bontoa, Raya, dan Tanralili. Sebab itulah seluruh Karaeng mulai ingin bersatu menjadi satu kesatuan. Karena itu dikatakanlah Toddo Limaya ri Maros, oleh karena kelima Karaeng ini tidak dapat dipisahkan.** Wassalam, Semoga manfaat...

Sumber : http://adhiehr.blogspot.com/2011/02/sejarah-berdirinya-todo-limaya-di-maros.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar